SAK ke IFRS dan Historical Cost Vs Fair Value


Perlunya SAK konvergen ke IFRS

IFRS adalah kumpulan dari standar akuntansi yang dikembangkan oleh Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang menjadi standar global untuk penyusunan laporan keuangan perusahaan publik.
Terdiri dari 15 anggota dari sembilan negara, termasuk Amerika Serikat. The IASB mulai beroperasi pada tahun 2001 ketika ia menggantikan Komite Standar Akuntansi Internasional. Hal ini didanai oleh kontribusi dari perusahaan-perusahaan akuntansi yang besar, lembaga-lembaga keuangan swasta dan perusahaan-perusahaan industri, pusat dan bank pembangunan, rezim pendanaan nasional, dan internasional lainnya serta organisasi profesional di seluruh dunia. Sementara AICPA adalah anggota pendiri Komite Standar Akuntansi Internasional, para pendahulu IASB organisasi, tidak berafiliasi dengan IASB. IASB tidak sponsor yang mendukung maupun yang sumber daya AICPA's IFRS website (www.IFRS.com).
Sekitar 117 negara memerlukan izin atau terdaftar domestik IFRS untuk perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Uni Eropa. Negara-negara lain, termasuk Kanada dan India, diharapkan untuk transisi ke IFRS pada tahun 2011. Meksiko berencana untuk mengadopsi IFRS untuk semua perusahaan yang terdaftar mulai tahun 2012. Beberapa memperkirakan bahwa jumlah negara-negara yang memerlukan atau menerima IFRS bisa tumbuh hingga 150 dalam beberapa tahun mendatang. Jepang telah memperkenalkan sebuah peta jalan untuk adopsi itu akan memutuskan pada tahun 2012 (dengan adopsi direncanakan untuk 2016). Negara-negara lain masih memiliki rencana untuk berkumpul (menghilangkan perbedaan signifikan) standar nasional mereka dengan IFRS.
Banyak orang percaya bahwa penerimaan IFRS di Amerika Serikat oleh SEC untuk perusahaan publik adalah niscaya. Selama bertahun-tahun, SEC telah menyatakan dukungannya untuk seperangkat inti standar akuntansi yang dapat berfungsi sebagai kerangka kerja untuk pelaporan keuangan dalam penawaran lintas batas, dan telah mendukung upaya dari Dewan Standar Akuntansi Keuangan (FASB) dan IASB untuk mengembangkan suatu set umum berkualitas tinggi standar global. November 14, 2008, SEC mengeluarkan komentar publik peta jalan yang mengusulkan transisi bertahap untuk wajib adopsi IFRS oleh perusahaan publik AS. Pada tahun 2009, krisis keuangan di SEC memfokuskan kembali prioritas lain. Namun, belakangan pernyataan dari pejabat SEC, termasuk kepala akuntan James Kroeker, menunjukkan bahwa Komisi akan memberikan kejelasan pada niat untuk IFRS pada akhir tahun. Selain itu, rancangan SEC Lima Tahun Rencana Strategis termasuk komitmen untuk standar global.

Ruang Lingkup Standart
Standar ini berlaku apabila sebuah perusahaan menerapkan IFRS untuk pertama kalinya melalui suatu pernyataan eksplisit tanpa syarat tentang kesesuaian dengan IFRS. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa laporan keuangan keuangan perusahaan yang pertama kalinya berdasarkan IFRS (termasuk laporan keuangan interim untuk periode pelaporan tertentu) menyediakan titik awal yang memadai dan transparan kepada para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang seluruh periode disajikan.

Konsep Pokok IFRS :
1. Tanggal pelaporan (reporting date) adalah tanggal neraca untuk laporan keuangan pertama yang secara eksplisit menyatakan bahwa laporan keuangan tersebut sesuai dengan IFRS (sebagai contoh 31 Desember 2006).
2. Tanggal transisi (transition date) adlah tanggal neraca awal untuk laporan keuangan komparatif tahun sebelumnya (sebagai contoh 1 Januari 2005, jika tanggal pelaporan adalah 31 Desember 2006).
Pengecualian untuk penerapan retrospektif IFRS terkait dengan hal-hal berikut:
1. Penggabungan usaha sebelum tanggal transisi
2. Nilai wajar jumlah penilaian kembali yang dapat dianggap sebagai nilai terpilih
3. Employee benefits
4. Perbedaan kumulatif atas translasi (penjabaran) mata uang asing, muhibah (goodwill), dan penyesuaian nilai wajar
5. Instrument keuangan termasuk akuntansi lindung nilai (hedging)

Tujuan Mengkonvergensi IFRS
IFRS (International Financial Reporting Standar) yang akan digunakan sebagai standar akuntansi secara Internasional dan diterapkan atau digunakan oleh setiap Negara yang bertujuan untuk mengharmonisasikan standar akuntansi Internasional. Saat ini pembuatan dari SAK (Standar Akuntansi Keuangan) mengacu pada FASB (Financial Accounting Standads Board) yang berada di Amerika Serikat, karena kiblat dari ilmu akuntansi yang ada di Indonesia saat ini berada di Amerika Serikat. Jadi selama ini standar akuntansi di Indonesia tidak jauh berbeda isinya dengan yang digunakan oleh Amerika. Sedangkan pada tahun 2011 akan dilakukan keseragaman terhadap standar Akuntansi di seluruh dunia, yaitu menggunakan standar akuntansi IFRS(International Financial Reporting Standar). Mau tidak mau Indonesia harus mengikuti perubahan yang akan dilakukan dunia yaitu mengganti standar akuntansi yang digunakan dengan standar akuntansi dunia. Oleh sebab itu, peran dari I.A.I sangat dibutuhkan setipa perusahaan dan pemerintah untuk melakukan perubahan standar akuntansi di Indonesia.
IFRS adalah standar akuntansi secara Internasional dan akan diterapakan oleh setiap Negara pada tahun 2011. Sedangkan FASB (Financial Accounting Standards Board) adalah lembaga swasta yang bertanggung jawab untuk membentuk standar akuntansi yang akan diterapkan di Ameika Serikat dan SAK (Standar Akuntansi Keuangan) adalah atandar akuntansi yang digunakan olh Indonesia dan lembaga ang ditunjuk untuk menentukan dan bertanggung jawab terhadap standar akuntansi di Indonesia ialah I.A.I (Ikatan Akuntansi Indonesia). Setiap perusahaan harus membuat Laporan Keuangan yang berguna untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan tersebut dalam jangka waktu tertentu yang mengacu pada standar akuntansi yang digunakan oleh setiap Negara tersebut.

Upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan, membuat IASB melakukan percepatan harmonisasi Standar Akuntansi Internasional khususnya IFRS yang dibuat oleh IASB dan FASB (Badan Pembuat Standar Akuntansi di Amerika Serikat).
Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan dan laporan keuangan interim perusahaan untuk perioda-perioda yang dimaksud dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang:
1. Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan (comparable) sepanjang periode yang disajikan
2. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna

Perkembangan Konvergensi PSAK ke IFRS
Sesuai dengan roadmap konvergensi PSAK ke IFRS (International Financial Reporting Standart) maka saat ini Indonesia telah memasuki tahap persiapan akhir (2011) setelah sebelumnya melalui tahap adopsi (2008 – 2010). Hanya setahun saja IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) menargetkan tahap persiapan akhir ini, karena setelah itu resmi per 1 Januari 2012 Indonesia menerapkan IFRS.
Berikut konvergensi PSAK ke IFRS yang direncanakan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI:

Tahap Adopsi (2008-2010)
Tahap Persiapan Akhir (2008-2010)
Tahap Implementasi (2008-2010)
Adopsi seluruh IFRS ke PSAK
Penyelesaian persiapan Infrastruktur yang diperlukan
Penerapan PSAK berbasis IFRS secara bertahap
Persiapan infrastruktur yang diperlukan
Penerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS
Evaluasi dampak penerapan PSAK secara komprehensif
Evaluasi dan kelola dampak adopsi terhadap PSAK yang berlaku

Program & Sasaran Konvergensi IFRS
Dua puluh Sembilan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) masuk dalam program konvergensi IFRS yang dicanangkan DSAK IAI tahun 2009 dan 2010.
“Sasaran konvergensi IFRS yang telah dicanangkan IAI pada tahun 2012 adalah merevisi PSAK agar secara material sesuai dengan IFRS versi 1 Januari 2009 yang berlaku efektif tahun 2011/2012,” demikian disampaikan Ketua DSAK IAI Rosita Uli Sinaga pada Public Hearing Eksposure Draft PSAK 1 (Revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan, di Jakarta Kamis 20 Agustus 2009 lalu.

Banyaknya standar yang harus dilaksanakan dalam program konvergensi ini menjadi tantangan yang cukup berat bagi DSAK IAI periode 2009-2012. Implementasi program ini akan dipersiapkan sebaik mungkin oleh IAI. Dukungan dari semua pihak agar proses konvergensi ini dapat berjalan dengan baik tentunya sangat diharapkan.
Rosita juga menambahkan bahwa tantangan konvergensi IFRS 2012 adalah kesiapan praktisi akuntan manajemen, akuntan publik, akademisi, regulator serta profesi pendukung lainnya seperti aktuaris dan penilai.
Akuntan Publik diharapkan dapat segera mengupdate pengetahuannya sehubungan dengan perubahan SAK, mengupdate SPAP dan menyesuaikan pendekatan audit yang berbasis IFRS. Akuntan Manajemen/Perusahaan dapat mengantisipasi dengan segera membentuk tim sukses konvergensi IFRS yang bertugas mengupdate pengetahuan Akuntan Manajeman, melakukan gap analysis dan menyusun road map konvergensi IFRS serta berkoordinasi dengan proyek lainnya untuk optimalisasi sumber daya.
Akuntan Akademisi/Universitas diharapkan dapat membentuk tim sukses konvergensi IFRS untuk mengupdate pengetahuan Akademisi, merevisi kurikulum dan

silabus serta melakukan berbagai penelitian yang terkait serta Memberikan input/komentar terhadap ED dan Discussion Papers yang diterbitkan oleh DSAK maupun IASB.
Regulator perlu melakukan penyesuaian regulasi yang perlu terkait dengan pelaporan keuangan dan perpajakan serta melakukan upaya pembinaan dan supervisi terhadap profesi yang terkait dengan pelaporan keuanganseperti penilai dan aktuaris. Asosiasi Industri diharap dapat menyusun Pedoman Akuntansi Industri yang sesuai dengan perkembangan SAK, membentuk forum diskusi yang secara intensif membahas berbagai isu sehubungan dengan dampak penerapan SAK dan secara proaktif memberikan input/komentar kepada DSAK IAI.
Program Kerja DSAK lainnya yaitu: Mencabut PSAK yang sudah tidak relevan karena mengadopsi IFRS; Mencabut PSAK Industri; Mereformat PSAK yang telah diadopsi dari IFRS dan diterbitkan sebelum 2009; Melakukan kodifikasi penomoran PSAK dan konsistensi penggunaan istilah; Mengadopsi IFRIC dan SIC per 1 January 2009; Memberikan komentar dan masukan untuk Exposure Draft dan Discussion Paper IASB; Aktif berpartisipasi dalam berbagai pertemuan organisasi standard setter, pembuat standar regional/internasional; serta Menjalin kerjasama lebih efektif dengan regulator, asosiasi industri dan universitas dalam rangka konvergensi IFRS.

Keuntungan dan Kelemahan dari Mengkonvergensi IFRS
Dengan mengadopsi IFRS, suatu bisnis dapat menyajikan laporan keuangan dengan dasar yang sama sebagai pesaing asing, membuat perbandingan lebih mudah. Selain itu, perusahaan dengan anak perusahaan di negara-negara yang memerlukan atau mengizinkan IFRS mungkin dapat menggunakan salah satu bahasa akuntansi perusahaan-lebar.. Perusahaan-perusahaan juga mungkin perlu mengkonversi ke IFRS jika mereka adalah anak perusahaan dari sebuah perusahaan asing yang harus menggunakan IFRS, atau jika mereka memiliki investor asing yang harus menggunakan IFRS.. Perusahaan juga dapat merasakan manfaat dengan menggunakan IFRS jika mereka ingin meningkatkan modal di luar negeri.

Walaupun sebuah keyakinan oleh beberapa keniscayaan penerimaan global IFRS, yang lain percaya bahwa US GAAP adalah standar emas, dan bahwa sesuatu akan hilang dengan penerimaan penuh IFRS. Selanjutnya, emiten AS tertentu tanpa pelanggan atau operasi yang signifikan di luar Amerika Serikat IFRS mungkin menolak karena mereka mungkin tidak memiliki pasar IFRS insentif untuk menyiapkan laporan keuangan. Mereka mungkin percaya bahwa biaya yang signifikan terkait dengan mengadopsi IFRS lebih besar daripada manfaatnya.

 Historical Cost Vs Fair Value
Ada dua hal pokok yang diminta oleh pemakai laporan keuangan yaitu Stewardship dan Valuation. Stewardship adalah peran sistem akuntansi dalam melacak pemerolehan, penggunaan, dan pelepasan sumber daya dalam perusahaan. Stewardhip diambil dari laporan yang dikompilasi oleh steward untuk menghitung tindakan mereka tanpa kehadiran pemilik yang mempekerjakan mereka. Steward ini menyimpan catatan, biasanya dalam satuan moneter, atas sumber daya yang dipercayakan pada mereka. Catatan tersebut menyediakan saldo awal dan akhir dalam akun yang harus dipertanggunjawabkan (Balance sheet) dan juga perubahan dalam satu perioda (disajikan dalam Laporan Laba Rugi atau Perubahan Ekuitas). Ahli akuntansi independen yang memiliki reputasi (atau biasa disebut IPA’s) disewa oleh pemilik untuk menguji validitas laporan manajemen.

Penekanannya bukan pada pengukuran dan pelaporan nilai pasar sekarang akun neraca atau perubahan nilai tersebut selama suatu perioda.

Tujuan pokok keuangan dan audit adalah:
mendeteksi pencurian atau penyalahgunaan sumber daya yang dipercayakan pada manajemen, dan
untuk meyakinkan bahwa laba dihasilkan oleh sumber daya diukur dan dilaporkan secara wajar dan konsisten sepanjang waktu dan sesuai dengan GAAP dan GAAS.
Tentu saja pemilik ingin mengetahui aset mana saja yang bernilai dan apakah aset tersebut berkurang nilainya sepanjang waktu. Mereka juga ingin mengetahui struktur perubahan nilai dan kemungkinan yang terjadi masa depan sehingga mereka dapat menaksir nilai sekarang dan prospek perusahaan. Tapi neraca GAAP tidak memiliki derajat yang tinggi atas relevansi untuk tujuan penilaian. Meskipun laporan laba rugi GAAP memberikan ukuran penting dari perubahan angka laba atas kekayaan pemilik; dapat digunakan untuk mengestimasi nilai ekonomik –laba bersih GAAP jelas bukanlah suatu ukuran laba ekonomik.

Awal dekade abad 20, ketika kepemilikan perusahaan AS menjadi terdispersi dan kontrol efektif didelegasikan kepada manajer profesional, banyak permintaan investor ekuitas atas sistem informasi berbasis nilai.

Shortcomings of Traditional Historical-Cost Financial Accounting –or getting the Balance Sheet Right.
 Harapan bahwa laporan keuangan auditan sendiri akan memberikan basis yang cukup untuk berinvestasi mencerminkan ketidakpahaman yang serius atas prinsip dan metoda akuntansi publik. Nilai sebagian besar aset dan kewajiban dicatat pada neraca berdasarkan kos historis yaitu jumlah yang dibayar untuk aset individual dan terjadi untuk kewajiban pada saat diperoleh atau diambil, dikurangi depresiasi dan amortisasi. Oleh karena itu, balance sheet tidak perlu dan secara umum tidak mengungkapkan nilai yang dapat diperoleh jika aset tersebut dijual atau kewajiban dilunasi. Kenyataannya, angka-angka pada neraca tidak disesuaikan dengan perubahan daya beli dollar.

Alasan utama adalah estimasi handal atas nilai pasar dari hampir semua aset perusahaan secara umum sulit dan sering tidak mungkin diperoleh. Nilai pasar aset individual bergantung pada variabel-variabel seperti jumlah yang dibeli, kondisi pasar ketika dibeli, dan ketersediaan kutipan harga yang handal.

Beberapa aset, khususnya barang dalam proses untuk persediaan akan memiliki nilai pasar ketika barang tersebut terjual. Aset seperti tanah, gedung, dan peralatan sering tidak memiliki nilai pasar tertentukan secara efektif sampai aset tersebut dijual atau diganti.
  •  Aset bertujuan khusus seperti tools dan program software komputer sering tidak memiliki nilai pasar tertentukan atau kos pengganti yang terukur.

  •  Banyak aset yang tergantikan oleh adanya teknologi baru. Misalnya kabel telepon diganti dengan wireless fiber optic atau transmisi satelit.
  • Susah juga menilai aset tak berwujud seperti penelitian dan pengembangan (R&D), periklanan, pelatihan personel, merek dagang, dan goodwill, yang sering tidak dibeli dan dijual secara terpisah dari perusahaan yang mengembangkannya.
Yang pasti, kesulitan tersebut tidak menghalangi semua upaya profesi akuntansi untuk menciptakan realitas ekonomi yang lebih luas dalam laporan keuangan auditan. Tapi hasil dari usaha tersebut bersifat instruktif. Contohnya: SEC mewajibkan penggunaan kos pengganti aset tetap pada tahun 1976, perusahaan menyatakan bahwa penerapan tersebut kosnya besar (bahkan sia-sia) seperti yang disyaratkan dalam FAS 33 pada tahun 1978, sehingga lebih baik menggunakan penyajian dengan tingkat harga yang disesuaikan pada statemen tambahan (supplementary statement).

Present Value Estimation: Problems in Getting the Income Statement Right
Jika akuntan dapat mengukur nilai pasar aset dan kewajiban, hal ini bukanlah nilai yang sesungguhnya diinginkan investor. Menambahkan nilai pasar sekarang aset individual dan mengurangi nilai pasar kewajiban akan memberikan investor suatu estimasi terbaik atas nilai perusahaan pada saat perusahaan tersebut dibubarkan atau dilikuidasi. Untuk perusahaan yang menghasilkan laba (atau diharapkan melaba), nilai pasar ini bukanlah nilai sisa aset dan kewajiban untuk tujuan investasi, tapi lebih pada nilai kelangsungan usaha perusahaan yang bersedia dibayar oleh investor luar atau perusahaan lain untuk aset bersih perusahaan.

Jadi yang ingin diketahui oleh investor sebenarnya adalah net present value atas net cash flow masa depan yang diharapkan. Masalah yang timbul bagi akuntan adalah menghitung present value memerlukan estimasi yang handal atas future cash inflow dan cash outflow. Cash inflow berdasarkan pada hasil fisik yaitu produksi dan penjualan, sedangkan cash outflow meliputi pengeluaran untuk produksi, distribusi, pendanaan dan pajak. Akhirnya, net operating cash flow harus didiskontokan dengan opportunity cost of capital yang memerlukan asumsi tambahan risiko dan struktur modal perusahaan.

Kesimpulannya bahwa proses untuk menggunakan nilai pasar sangat rumit, subjektivitasnya tinggi, dan membuka peluang besar untuk kesalahan dan manipulasi.

THE TRADISIONAL ACCOUNTING APPROACH: EMPHASIS ON THE INCOME STATEMENT WITH THE BALANCE SHEET AS A “HOLDING PLACE” BETWEEN INCOME STATEMENTS
Penyusunan dan pemeriksaan laporan keuangan didesain dengan tujuan pokok melaporkan hasil pekerjaan manajer yang menekankan pada konsistensi dan kepercayaan dalam pengukuran dan pelaporan laba. Akuntansi keuangan mencapai tujuan yang lebih sederhana (dan sangat penting) ini dengan mendefinisikan laba bersih dengan cara yang spesial. Laporan akuntansi atas laba bersih perioda adalah laporan pendapatan bersih dikurangi biaya yang terjadi untuk menghasilkan pendapatan (termasuk kerugian karena investasi dan keputusan yang buruk). Jumlah dan saat pendapatan dan biaya tandingan diukur menggunakan harga yang diambil atau berdasarkan pada transaksi pasar aktual dan penerapan yang konsisten antar perioda atas prosedur akuntansi yang berlaku. Pendapatan dan biaya tandingan dari operasi berjalan dibedakan dari hubungannya dengan aktivitas lain seperti investasi dan pendanaan operasional dan penjualan aset utama dan penghentian operasi utama perusahaan.

Neraca adalah tempat penahanan untuk angka yang belum dikreditkan atau dibebankan pada suatu laporan laba rugi atau akun ekuitas. Jadi akuntansi keuangan memberi penekanan yang lebih besar atas pencapaian realitas ekonomi dalam laporan laba rugi daripada neraca. Untuk tambahan yang berfungsi sebagai jembatan antara laporan laba rugi berturut-turut, neraca menyediakan statemen nilai atas aset lancar dan kewajiban jangka pendek yang sering dapat dinilai secara handal pada harga pasar dan karena angka-angka tersebut penting untuk bank dan kreditor jangka pendek lainnya. Aset dan kewajiban tersebut meliputi kas, sekuritas yang diperdagangkan atau dijual kembali, piutang, wesel tagih dan wesel bayar.


Accounting Rule for Recognizing Income and Expense
Daripada berusaha membuat neraca yang mencerminkan nilai ekonomik, akuntan memilih untuk menjaga reliabilitas dan integritas laporan keuangan dengan mengembangkan aturan pengakuan pendapatan dan biaya yang secara logis dan konsisten mencerminkan perubahan nilai klaim pemegang saham atas aset perusahaan.

Profesi akuntansi menganut dua prinsip hubungan yaitu critical event dan matching, serta aturan modifikasi yang ketiga yaitu conservatism.
  • Pengakuan pendapatan: peristiwa kritis
Pendapatan diakui ketika terdapat kepastian dan jumlah peningkatan nilai dapat diketahui secara objektif. Contoh: sales income diakui ketika pemilikan dan pengendalian barang telah berpindah kepada pembeli dan jumlah yang akan dibayar dapat ditentukan. Jika pelanggan mengambil barang dengan konsinyasi maka belum diakui sebagai penjualan. Penjualan dapat juga tidak dicatat ketika barang secara fisik telah berpindah karena penagihan jumlah terutang yang tidak pasti dari pelanggan, sehingga peristiwa kritis adalah ketika kas diterima dari pelanggan. Pada kasus kontrak jangka panjang, meskipun pendapatan dapat diakui sebelum kontrak selesai, tapi jumlah yang diakui adalah sebesar jumlah klaim yang valid atas tingkat penyelesaian pekerjaan yang dapat ditagih sehingga penetapan klaim tersebut adalah peristiwa kritis.
  • Pengakuan biaya: konsep penandingan
Ketika pendapatan diakui dan dicatat, konsep penandingan akan digunakan. Biaya yang terjadi untuk menghasilkan pendapatan ditandingkan dengan pendapatan dan diakui sebagai pengurangan dalam nilai ekuitas. Contoh: kas dapat terutang atas tenaga kerja dan material digunakan untuk menghasilkan sediaan untuk dijual. Tapi kos dari tenaga kerja akan terbawa menjadi aset (work in process dan finished goods) sampai sediaan tersebut terjual, yang pada titik ini kos aset akan ditransfer menjadi akun biaya (cost of goods sold).

Untuk beberapa kos tentu saja tidak dapat ditelusuri secara langsung dengan pendapatan. Sebagai alternatif dapat digunakan pembebanan secara sistematis dan rasional, misalnya: biaya depresiasi dan amortisasi. Biaya dapat juga segera diakui ketika manfaat masa depan dari kos yang terjadi tidak dapat ditentukan secara handal, misalnya: biaya R&D.
  • Konservatisme
sikap kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian di masa datang. Akuntan cenderung untuk konservatif karena orang-orang akan sangat terganggu ketika menghadapi sesuatu yang lebih buruk dari yang diprediksikan tapi orang-orang jarang komplain ketika suatu kejutan yang menyenangkan terjadi. Oleh karena itu, aset cenderung disajikan lebih rendah dan tidak melebihi nilai yang terrealisasikan, tapi tidak menaikkan aset tersebut ketika ada bukti yang jelas dan objektif atas peningkatan nilai. Peningkatan nilai aset nonfinansial atau penurunan nilai kewajiban tidak dicatat sampai perubahan tersebut terrealisasi pada transaksi pasar. Aset tidak berwujud seperti periklanan dan R&D segera dibiayakan karena ketidakpastian nilai yang ditimbulkan pada masa yang akan datang. Prosedur ini bersifat konservatif karena memindahkan pengakuan pendapatan ke perioda yang akan datang sedangkan mengakui biaya pada perioda yang lebih dulu.


THE CASE FOR ECONOMIC PROFIT

Ukuran laba yang dihasilkan untuk penerapan tiga prinsip di atas berbeda dengan apa yang oleh para ekonom (atau investor canggih) disebut sebagai income atau value added. Hal ini membawa kita pada konsep economic profit yang ditawarkan stewart atau biasa disebut EVA, yang berusaha ditentukan sebagai suatu ukuran.

Stewart berusaha untuk menggambarkan realitas ekonomi dalam neraca. Dia menyatakan bahwa fungsi neraca seperti catatan historis dari jumlah kapital yang telah disetorkan oleh investor ke perusahaan. Stewart mengusulkan (berbeda dengan GAAP) bahwa penurunan goodwill dan aset lainnya tidak mengurangi laba bersih dan ekuitas, tapi ditransfer ke sisi aset pada neraca. Stewart juga memasukkan off balance sheet liabilities sebagai kapital, yang tidak dimasukkan oleh GAAP, misalnya operating leases.. Jadi, total kapital menyediakan dasar untuk menghitung kapital yang dibebankan terhadap laba (termasuk cost of equity) yang merupakan bagian penting yang membedakan definisi economic profit.

Disamping membiayakan cost of equity, stewart juga menyarankan sembilan perbaikan lainnya pada GAAP (secara rinci disajikan pada lampiran). Perubahan yang diusulkan stewart dapat dikelompokkan pada salah satu kategori berikut:
  • Perubahan dimaksudkan untuk menggambarkan kos ekonomi aktual yang tidak diatur dalam GAAP sekarang.
  • Perubahan disusun untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dari cash flow operasi suatu perusahaan, utamanya menambahkan kembali biaya-biaya noncash di dalam GAAP menjadi income, dan
  • Perubahan berusaha untuk mengembalikan pengaruh pertimbangan yang terlalu konservatif, utamanya dengan mengkapitalisasi kemudian mengamortisasi pengeluaran investasi jangka panjang, yang dalam GAAP sekarang diakui segera sebagai biaya.

Berdasarkan kategori pertama perbaikan –dimaksudkan untuk menyajikan kos yang tidak terrefleksi pada GAAP- penulis memasukkan proposal Stewart pada (1) biaya atas kos stock option granted to employee; (2) menghilangkan pengaruh return investasi pensiun dari laporan keuangan; (3) memasukkan sebagai biaya atas beban cost of equity.

Kategori kedua dari proposal stewart –yang didesain untuk merefleksi aliran kas –adalah penyesuaian termasuk mencatat biaya hanya ketika terjadi aliran kas keluar aktual daripada prosedur biasa mengakru biaya yang terterapkan ke pendapatan yang dilaporkan pada suatu perioda. Stewart akan mengeliminasi provisi periodik untuk pajak tangguhan dan akan mencatat sebagai biaya hanya pinjaman dan piutang yang nyata tidak tertagih selama suatu perioda. Penulis mempunyai dua tujuan untuk memasukkan perubahan yang diajukan tersebut sebagai bagian dari GAAP yaitu (1) akrual diperlukan untuk menandingkan biaya dengan pendapatan yang dilaporkan, (2) aliran kas yang ingin dilaporkan stewart telah tersedia pada laporan aliran kas yang diwajibkan oleh GAAP untuk semua perusahaan.

Kelompok ketiga dari perubahan yang diajukan Stewart dimaksudkan untuk menjauhkan laba yang dilaporkan dari aliran kas dan terhadap konsep penandingan. Contohnya: dia mengharuskan perusahaan mengkapitalisasi (daripada membiayakan) pengeluaran yang menciptakan aset takberwujud, khususnya R&D, dan kemudian mengamortisasi jumlah tersebut dalam suatu yang merefleksi imbalan yang diharapkan untuk investasi tersebut. Dengan prinsip yang sama, dia akan berusaha menandingkan kos investasi strategik dengan return yang lebih tinggi yang mereka harapkan untuk dihasilkan setelah mereka mencapai kedewasaan. Jika kapitalisasi dan alokasi tersebut ke laba tidak menjadi subjek manipulasi oleh manajer oportunis atau terlalu optimis, mereka akan memperluas konsep penandingan yang sangat berguna. Penulis meyakini bahwa kos potensial dan kemungkinan salah saji secara substansial melebihi manfaat dari pelaporan laba bersih periodik perbaikan.

Sebagai seorang ahli ekonomi, penulis menemukan banyak perubahan yang diusulkan Stewart akan berguna baik untuk manajer perusahaan dalam membuat keputusan investasi dan untuk investor yang berusaha mengevaluasi keefektifan dari keputusan tersebut. Atas dasar itu, penulis merekomendasikan bahwa banyak perusahaan mempertimbangkan untuk membuat pengungkapan sukarela dari laba ekonomik mereka. Tapi sebagai seorang akuntan, penulis merasa yakin bahwa usaha untuk memasukkan ukuran laba ekonomik stewart ke dalam GAAP adalah suatu kesalahan. Prinsip konservatisme yang menyatakan perlakuan GAAP terhadap pengakuan pendapatan dan biaya didesain untuk mengurangi manipulasi manajerial dan melindungi auditor dari kritik. Oleh karena itu, selama akuntan dapat dituntut untuk estimasi nilai yang menjadi terlalu tinggi –suatu kondisi yang oleh Stewart dapat diubah –prinsip konservatisme akan tetap menjadi satu prinsip pokok dari akuntansi keuangan.


SUGGESTIONS FOR IMPROVING TRADITIONAL FINANCIAL ACCOUNTING
Ada dua hal dalam perkembangan akuntansi publik yang harus diuji kembali yaitu (1) usaha untuk menggambarkan “fair value” pada neraca perusahaan dan (2) evolusi terkait “rules-based accounting”.
1. Problem with Fair Value
Dalam sejarah akuntansi, kepercayaan telah diyakinkan dalam praktek akuntan, hanya angka yang berasal dari transaksi dengan pihak-pihak yang berkeinginan dan bebas berkehendak (arm’s length transaction) yang dapat diverifikasi oleh auditor.

Perkembangan pasar keuangan baru dan pasar komoditas dalam beberapa dekade yang lalu telah memperluas cakupan aset dan kewajiban yang akuntan merasa nyaman dengan menilai kembali pada suatu basis periodik.

Diawali pada akhir 1980an ada dorongan FASB untuk menyajikan nilai pasar aset dan kewajiban pada neraca. Tapi jika prinsip kepercayaan menjadi angka yang lebih relevan, langkah nyata yang telah diambil untuk mengimplementasikan akuntansi nilai pasar menjadi cacat serius.

Kita dapat mengambil kasus FAS 115 (diadopsi tahun 1993) yang mewajibkan perusahaan untuk merevaluasi semua aset finansial yang diperjualbelikan secara reguler pada pasar sekuritas sebesar nilai pasarnya pada akhir perioda akuntansi. Meskipun banyak yang merekomendasikan ide ini, revaluasi tidak diterapkan secara konsisten. Debt Securities dalam kelompok “held for maturity” tidak direvaluasi meskipun nilai pasarnya harus dilaporkan pada catatan. Tapi jika debt didesain sebagai “held for sale”, sekuritas tersebut dicatat sebesar nilai pasar pada neraca (meskipun perubahan nilai tidak dilaporkan sebagai laba sekarang, mereka memasukkannya sebagai bagian dari “comprehensive income”. Ketidakkonsistenan tersebut kelihatan didorong oleh tekanan politik dari beberapa perusahaan, khususnya bank komersial, yang ingin melindungi laporan laba rugi mereka dari perubahan harga pasar, meskipun harga tersebut dapat dengan mudah dan handal ditentukan oleh setiap orang melalui surat kabar atau komputer. Penyimpangan ini seharusnya dihilangkan; setidaknya, semua aset yang identik atau terbandingkan seharusnya menerima perlakuan akuntansi yang sama, sepanjang konsep penandingan dipertahankan (misalnya, pada satu sisi transaksi lindung nilai seharusnya tidak direvaluasi jika pada sisi yang lain tidak dapat direvaluasi secara handal).

Sebaliknya, sediaan –aset yang jauh lebih penting untuk hampir semua perusahaan daripada sekuritas –hampir tidak pernah dilaporkan pada nilai pasar (kecuali pada catatan), meskipun meretia dapat dinilai dengan handal pada tanggal neraca. Sediaan biasanya dicatat berdasarkan pengukuran yang dapat mendistorsi nilai neraca (pada penggunaan metoda LIFO) atau nilai laporan laba rugi (jika metoda FIFO digunakan). Pada posisi perlakuan akuntansi sekarang, penulis merekomendasikan sediaan dinilai sebesar opportunity cost-nya jika jumlah tersebut dapat dipercaya. Seperti kasus sediaan yang tergantikan secara regular, termasuk bahan baku dan sediaan dibeli untuk dijual kembali.

Jika sediaan yang diproduksi dapat dilaporkan pada opportunity cost yang dapat ditentukan secara handal, nilai yang dimasukkan hanya kos pengganti sediaan (tidak termasuk alokasi arbitrer dari biaya tetap). Perubahan tersebut akan mengeliminasi satu metoda penting yang memungkinkan manajemen memanipulasi laba bersih yang dilaporkan –yaitu, pembuatan barang untuk sediaan yang tidak mungkin terjual sehingga biaya tetap yang sebaliknya akan dilaporkan sebagai biaya sekarang dapat dikapitalisasi. Meskipun manipulasi ini tidak dapat berlangsung lama, hal ini akan menjadi mahal karena menyia-nyiakan sumber daya dan juga menyesatkan investor.

Kegagalan SEC dan FASB dalam penilaian sediaan hanya dapat diatribusikan ke fiksasi mereka pada aset keuangan. Tapi yang lebih bermasalah daripada ketidakkonsistenan dalam penerapan akuntansi nilai pasar adalah suatu pengembangan hubungan yang disebut akuntansi nilai wajar (fair value accounting) –salah satunya adalah kemungkinan kerusakan yang substansial atas kepercayaan dari laporan akuntansi keuangan. Peristiwa kritis pada munculnya akuntansi nilai wajar terjadi pada tahun 1992, ketika SEC secara publik mengijinkan Enron (dan barangkali perusahaan energi lainnya) untuk melaporkan laba bersih yang substansial atas kontrak untuk menyediakan tenaga sepanjang perioda selama 10 tahun. Laba yang dilaporkan berdasarkan pada estimasi manajer Enron atas nilai sekarang dari aliran kas masa datang (termasuk pilihan mereka menggunakan discount rate).

Pada saat yang sama, FASB menginisiasi usaha untuk memperluas akuntansi nilai wajar pada derivatif (bahkan yang digunakan sebagai lindung nilai). Melalui perdebatan panjang, FAS 133 diadopsi pada tahun 1998, yang mengharuskan perusahaan menentukan nilai wajar untuk semua derivatif selain yang digunakan untuk melindungi aset atau kewajiban. Akibatnya, banyak derivatif yang tidak diperdagangkan pada pasar sekuritas harus ditandai dengan model tersebut, yang memberikan peluang yang substansial kepada manajer untuk menghitung nilai wajar derivatif tersebut.

Jadi penilaian wajar secara efektif telah diperluas untuk semua jenis aset tetap, memampukan manajer untuk mencatat income mendahului bukti yang handal yang menunjukkan income telah diterima.

2. The Problem of Rules-Based Accounting
Mengatasnamakan realita ekonomi, kemudian pergerakan nilai wajar kemungkinan berhasil terutama dalam memperbesar peluang manajer untuk memanipulasi laporan keuangan. Cukup ironis, autoritas akuntansi juga terlihat pada tahun akhir-akhir ini membatasi peluang tersebut dengan merumuskan GAAP dalam aturan yang sangat rinci yang berusaha menentukan secara tepat apa yang seharusnya dilakukan untuk semua kemungkinan yang terjadi. Tapi pengaruh sistem “rules based” tersebut masih jauh dari apa yang diinginkan oleh autoritas.

Sesuai pendekatan rules-based (sebagai lawan dari principle-based), manajer dan konsultan mereka membuat prosedur akuntansi yang secara teknik sesuai dengan GAAP, meskipun prosedur tersebut cenderung menyesatkan investor dan merusak substansi atau spirit dari GAAP. Akuntan tidak saja kesulitan dengan tantangan penggunaan prosedur tersebut, tapi sering mengusulkan atau menyarankan sesuai dengan desain mereka. Dalam kasus ini, praktik akuntan publik telah menjadi mirip dengan praktik pajak, yang pada kondisi tersebut klien meminta dan akuntan menyediakan keahlian dalam cara menghindari persyaratan substantif GAAP yang masih memenuhi kepatuhan secara teknik.

Ada beberapa alasan untuk pendekatan rule-based. Pertama, auditor yakin mereka dapat menghindari jeratan hukum jika mereka dapat menunjukkan bahwa mereka telah mengikuti aturan tersebut. Kedua adalah ketakutan kehilangan klien karena menolak memberikan atestasi sesuai prosedur akuntansi yang secara teknik telah sesuai dengan GAAP. Ketiga, badan pemerintah seperti SEC cenderung menetapkan atau mendorong aturan, kemudian meminta ketaatan yang ketat. Hal ini melindungi badan pemerintah tersebut dari klaim favoritisme dan arbitrer, pencegahan campur tangan politik.

Last but not least, GAAP telah dikritik karena GAAP memberikan peluang kepada manager atas beberapa tingkat pilihan, setidaknya pada keadaan tertentu. Misalnya, aset pada saat dibeli dapat didepresiasikan secara lebih cepat atau lebih lambat dengan menerapkan metode garis lurus atau sum of the year digit, atau metode lain tergantung pada estimasi masa manfaat ekonomik aset tersebut dan nilai residunya. Begitu juga halnya dengan persediaan dapat menggunakan FIFO atau LIFO.

Prinsip-prinsip akuntansi sangat jelas. Pendapatan harus diakui sampai tersedia bukti yang objektif dan handal. biaya harus ditandingkan dengan pendapatan yang terkait dengan pengeluaran tersebut atau pada perioda ketika aset ditentukan tidak memiliki manfaat di masa datang. Yang paling penting, angka-angka dalam laporan keuangan seharusnya lebih dapat dipercaya, karena telah diverifikasi oleh akuntan publik independen yang melakukan audit dan menyakini bahwa angka-angka tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar GAAP. Karena telah memenuhi kondisi tersebut, laporan laba rugi tradisional akan menjadi catatan yang wajar dan konsisten dari suatu operasi perusahaan dan tentunya saja memenuhi fungsi pelayanan dari akuntansi publik.

Tapi seperti yang dijelaskan penulis, GAAP accounting tidak , tidak dapat, dan seharusnya tidak berusaha untuk menyediakan jenis informasi tentang profitabilitas dan nilai perusahaan yang diperlukan untuk keputusan investor. Begitu juga halnya informasi nilai tambah yang seharusnya menjadi panduan bagi manajer perusahaan dalam pengambilan keputusan dan basis dalam menilai kinerja dan kompensasi. Untuk informasi tersebut, manajer akan lebih baik menggunakan ukuran laba ekonomik. Perusahaan dapat saja mengungkapkan laba ekonomik sesuai dengan keinginannya tapi sebagai supplemen untuk statemen GAAP tradisional, bukan dengan mengganti laba akuntansi yang telah ada. 

 

0 komentar:

Poskan Komentar